Malam Kilau di Hotel Tua
Lara datang ke hotel tua itu bukan untuk mencari perhatian. Ia hanya ingin keluar dari rutinitas yang membuatnya merasa kusam. Pesta kecil di lantai dua terlihat hangat, dengan lampu kuning, musik pelan, dan orang-orang yang berbicara tanpa terlalu keras.
Di sudut ruangan, Raka sedang memotret tamu dengan cara yang tenang. Ia melihat Lara, lalu menurunkan kameranya seolah memberi ruang. Saat mereka akhirnya bicara, Lara merasa tidak sedang dinilai. Raka mendengarkan seperti orang yang benar-benar hadir.
Ia meminta izin mengambil satu foto di balkon. Lara tertawa kecil, lalu setuju. Angin malam membuat suasana lebih santai, dan Raka tidak menyuruhnya berpose macam-macam. Ia hanya meminta Lara melihat ke arah kota dan menjadi dirinya sendiri.
Foto itu membuat Lara terdiam. Ia terlihat dewasa, yakin, dan lembut sekaligus. Raka berkata bahwa daya tarik tidak selalu datang dari pakaian mahal atau lampu terang. Kadang seseorang terlihat paling memikat saat ia tidak lagi berusaha membuktikan apa pun.
Mereka pulang setelah tengah malam, berjalan sampai lobi yang hampir kosong. Lara menyimpan foto itu di tasnya dan merasa malam itu memberi sesuatu yang sederhana namun penting. Ia tidak berubah menjadi orang lain. Ia hanya akhirnya melihat dirinya dengan lebih jujur.
